Arsip Kategori: Artikel

Menyusuri Sejarah CB Indonesia (CBI)

Membuat catatan mengenai sejarah berdirinya CB Indonesia, ibarat  memotret masa lalu yang kusut, namun sejatinnya dari masa lalu kita bisa mengurai untuk mengambil ikhmah sekaligus sebagai bahan refleksi untuk kemajuan masa mendatang.

Untuk melengkapi tulisan ini saya harus mengingat kembali data-data yang saya miliki termasuk harus mengkonfrimasi ke sahabat-sahabat lama saya termasuk para senior, yang tentunya juga ikut terlibat langsung maupun tidak langsung dalam pendirian CBI, sehingga memperkuat refrensi saya dalam tulisan ini.

Saya harus menyebut sahabat-sahabat /kakak saya ini,  yang tak saya ragukan kredibelitasnya atas kesaksiannya atas kiprah CB Regional Jatim, CB Owner hingga CB Indonesia, mereka adalah Kang Ndun, Bro Hanny mantan Ka MCBC Malang, Yanto (Sinyo) ka CB Owners Pasuruan, Jery dan Sulis pentolan Black CB Jember, Bro Denny mantan ka SCBC Semarang, Bro Jhony mantan Ka CB Mobta, Pak Is mantan Ka CB Jateng DIY, serta Rahem Ka CB Madura.

Ilustrasi:

Berdirinya CB Indonesia tak terlepas dari serangkaian sejumlah peristiwa yang melingkupinya dan tidak berdiri tunggal. Seperti kita ketahui Jawa Timur adalah basis bagi pecinta motor CB. Keberadaan Klub CB di Jatim maupun di Jateng sejatinya ada sudah ada sejak dua dasawarsa lebih , Klub tersebut adalah CB Nganjuk, MCBC Malang , maupun SCBC semarang…Bahkan beberapa klub lainnya di Jatim usainya mendekati 20 tahun. Suburnya Klub CB di Jatim  rupanya telah memberikan warna gairah bagi perkembangan per CB-an di tanah air.

Di Jatim sendiri dari perkumpulan klub CB di tingkat kabupaten kemudian makin lama makin  membesar menjadi kumpulan tingkat daerah/regional dengan berdirinya CB Regional Jawa Timur. Bahkan salah satu agenda rutinnnya adalah Jambore Regional CB Jawa Timur.

Beberapa agenda Jambore Jatim yang pernah di digelar yakni pertama digelar Jambore I di Nganjuk, kemudian Jambore II   di Kediri , Jambore III dilaksanakan berupa toring dari Surabaya  menuju Sarangan lewat Malang. Jambore IV di Watu Olo Jember , kemudian Jambore Regional V di Kalibendo Banyuwangi, 21-22 Peb 2004. Dan Jambore Regional VI di Sarangan Magetan pada tanggal 30-31 Juli 2005.yang kemudian tahun berikutnya jamboree jatim ekspan hingga ke Bali.

Sekedar memori: Dalam rapat di acara Jambore di Bale Desa Sarangan Magetan yang dipimpin Ketua CB Regional Jawa Timur Bapak Hendro dan didampingi Sekretaris Bro Jonggo ini menentapkan Jembrana Bali sebagai tuan rumah pelaksanaan Jambore CB Regional Jatim yang kemudian disepakati nama Jambore Regional CB Jatim  adalah Jambore Motor CB se Jawa Bali. Jambore Jatim boleh dikatakan  ekspansi hingga ke Bali ini menjadi kisah sendiri  bahkan di satu sisi menjadi kontradiktif atas munculnya ide pembentukan sebuah klub CB baru untuk menandingi CB Regional Jatim.

Pra CB Owners Indonesia

Jambore CB se Jawa Bali di GOR Krsna Jvara Jembrana Bali bisa dikatakan sebagai letupan sarana munculnya CB Owners Indonesia (skala Nasioanal) hal ini dimaknai  sebagai bentuk perlawan atas CB Regional Jawa Timur.

Dalam Jambore CB se Jawa Bali di Jembrana ini , terdapat konflik internal di wilayah Jember Jatim, namun imbasnya dibawa ke Jembrana. Perselisihan antara Black CB Jember dan CB Auto Motif Jember ini, memuncak hingga terjadi pengusiran terhadap Black CB Jember di acara Jambore tersebut, yang dalam hal ini  dilakukan oleh pihak CB Tapal Kuda (CB eks Karisedenan Besuki) . Dimana dalam konflik itu,  CB Otomotif Jember mendapat dukungan dari CB Tapal Kuda. Sebelum hari H , kepada panitia pihak CB Tapal Kuda mengancam tidak akan hadir jika panitia tetap  mengundang CB Black Jember yang diketuai Sulis dengan sekretarisnya Jery. Dan kenyataan panitia tetap mengundang mengigat semua klub CB adalah saudara.

Sore hari pada Hari H , ternyata  CB Black Jember datang ke lokasi acara yang mendapat respon penolakan dari CB Tapal Kuda, sehingga sore itu digelar rapat dengan menghadirkan pengurus CB Jatim, pengurus CB Tapal Kuda dan pihak panitia dalam hal ini CB Jembrana.

Dalam rapat yang difasilitasi CB Jatim itu rupanya tidak membuahkan hasil. Pihak CB Tapal bersikukuh meminta panitia menolak/mengusir CB Black Jember dari lokasi acara , dengan ancaman jika tidak, maka hari itu juga pasukan CB Tapal Kuda yang jumlahnya ratusan personil ini meninggalkan acara. Namun pihak panitia bersikukuh tidak akan melakukan pengusiran. Melihat situasai seperti itu CB Black Jember  dengan jiwa besar akhirnya mengalah dan memilih  meninggalkan lokasi acara, dan terpaksa sekitar 50 personil CB Black Jember bermalam di berbagai tempat diantaranya bermalam di tempat bro Manang anggota CB Jembrana.

Malam hari , di sebuah hotel dekat lokasi acara telah berkumpul para pimpinan CB, diantaranya Sulis dan Jery dari CB Black Jember , bro Hanny Ketua MCBC Malang, Sinyo CB Pasuruan dan belasan orang lainnya hadir di hotel tersebut. Kehadiran mereka ini tak lain sebagai bentuk simpati dan tolreransi atas pengusiran CB Black Jember. Saya pun datang ke hotel karena ada SMS yang meminta saya datang ke hotel saat itu juga “Kalao kita nggak ingat mas bro dan CB Jembrana sudah dari tadi kita bikin rusuh acara jambore ini,” ujar Hanny ka MCBC yang prihatin atas pengusiran CB Black Jember ini. Seinggat saya Hanny begitu geram atas tindakan arogan, sehingga alternatif untuk membuat klub baru baginya adalah cara terbaik, sehingga gagasan bro Hanny memberi support atas berdirinya club tandingan.

Dari oborolan yang terjadi malam itu, memang dipenuhi suasana emosi yang tak terbendung, hingga muncul wacana untuk membuat organisasai club baru yang lebih besar. Kekecewaan teman-teman ini memang ditujukan terhadap CB Regional Jatim yang dinilai tidak bisa menetralisir keadaan kulub di bawahnya termasuk menengahi masalah saat Jambore di Jembrana saat itu. Namun malam itu teman-teman belum menemukan nama dan bentuk organisasi klub CB dimaksud. Wacana membentuk organisasi CB tingkat nasional itu kemudian menjadi agenda utama untuk dibahas dan dimantapkan lagi di Malang dan Batu , dengan menindaklanjuti beberapa pertemuan diantaranya di Balekambang Malang dan pertemuan di Batu Di Villa Songgoriti tanggal 9 okt 2006 , termasuk  mengangkat Mbah Djo sebagai Ka CB Owners.

“Selain pimpinan club  dalam acara pertemuan di Sonngoriti  itu hadir juga Mbah Djo, Kang Ndun dan Pak Thoyo ,” jelas Sinyo Ka CB Owners Pasuruan.

Monumental dari sejarah CB Owners ini dibuktikan dengan diselenggaranya Jambore Nasioal CB Owners Indonesia di Jember Jatim, 21-22 Juli 2007. Yang dihadiri bukan hanya dari Jatim namun dari berbagai daerah diantaranya Jateng-DIY, Jabar, Sumatera dan Bali dan Lombok.

Bahkan dalam acara itu juga terdapat rapat yang dipimpin Mbah Djo sebagai Ka CB Owners dengan berbagai agenda. Namun lantaran pembahasan materi terlalu lama dan perlu waktu lebih instens menyangkut organisasai sehingga rapat tidak menghasilan sesuatu. Yang rencananya beberapa materei akan dibahas lebih lanjut, dan ternyata pembahasan lebih lanjut tersebut dilaksanakan di Surakarta tepatnya di Pendopo alun2 Utara Kraton Surakarta pada tanggal 17 Nopember 2007.

Pra CB Indonesia 

Mementum pertemuan di Surakarta yang dihadiri perwakilan CB dari Bali,  Jatim, Jateng DIY  dan Sumatera saat itu  merupakan cikal bakal berdirinya  CBI. Dalam pertemuan di Surakarta itu sejatinya untuk menbahas rancangan AD/ART namun bahan AD-ART   yang disodorkan oleh Bro Imanuel dari  CB Denpasar ke Mbah Djo untuk diperbanyak ternyata tidak diberikan ke pantia, sehingga pembahasan pun berlanjut terhadap pergantian nama CB Owners Indonesia.

Bahkan usulan untuk mengganti nama CB Ownres  pun harus dilakukan votting, apakah perlu diganti  atau tidak ,yang akhirnya dalam voting tersebut suara terbanyak meminta adanya pergantian nama. Peserta yang hadir pun kemudian mengusulkan nama-nama pengganti CB Owners.  Beberapa nama yang diajukan mengganti nama CB Owners adalah CB Indonesia (CBI), Persatuan CB Indonesia (PCBI) dan ada  nama lain seperti Perkumpulan CB Se Indonesia dan lain-lain.

“Banyak yang memberikan usulan nama pengganti CB Owners dengan argumentasi masing-masing , kami dari Bali mengajukan nama CB Indonesia, karena kalau menggunakan kata Owners kata itu ke-barat-baratan, dan nama itu tidak mencerminkan nasionalisme , “ terang Imanuel Ka CB Denpasar.

Berdirinya CB Indonesia

Dalam pertemuan di Surakarta tanggal 17 Nopember 2007 ini tentu patut dijadikan tonggak sejarah berdirinya CB Indonesia (CBI). Yang kemudian untuk membuktikan CB Indonesia itu memiliki gaung dan kekuatan bersekala nasional maka digelarlah Jambore Nasional CB Indonesia yang pertama di Jogya, 1-2 Nop 2008. Dalam Jamnas CBI yang dikaitkan dengan Silaturahmi Wisata CB itu, juga dihadiri perwakilan CB di Luar Jawa yang juga mendapat antusias dan respon positif.

Dalam Jamnas itu pula kemudian diusulkan dan ditetapkan nama pengurus CBI yakni Ketua Mbah Djo (Jatim), Wakil Gede Sastrawan (CBCL Lampung) sekretaris Doyok (Jockers Jogya). Dalam Jamnas  CBI  di Jogya ini juga diperkuat oleh 3 ketua panitia gabungan dari club di Jogya yakni Jefry dari Mobta, Nanok dari Jogya Revolution CB dan Towo dari Jockers.

Setahun kemudian tepatnya 25-26 Juli 2009, digelar Munas I CB Indonesia di Semarang, namun kegiatan konsepsional berupa LPJ, membuat AD-ART. membuat program kerja dan pemilihan kepengurusan tidak terjadi. Munas CBI di Semarang sama sekali tidak ada pembahasan. Ketua SCBC Semarang bro Deny pun mengakui tidak ada acara pembahasan apapun dalam Munas CBI di Semarang .

Hal serupa juga terjadi dalam Munas III CB Indonesia di Mataram Lombok 19 Maret 2011 tahun lalu. Tidak ada satu pun pembahasan Munas padahal wakil dari Kalimantan, Sumatera , termasuk Bali dan NTB hadir.

Sementara dalam Munas II CB Indonesia di Madura 19 Juni 2010 yang dirangkai dengan deklarasi CB Madura itu, hanya menghasilkan pergantian dan menetapkan pengurusan baru CBI yakni Mbah Djo Presiden CBI, Wapres Mbah Kung, Sekretaris bro Andonk, Bendahara bro Johan , dan pengurus lainnya yakni bro Monos dan bro Agus Brewok. Semuanya pengurus berasal dari Jawa Timur dengan pertimbangan agar mudah koordinasi dalam melaksanakan tugas dalam pengurusan organisasi CBI.

Sedangkan Munas IV di Caruban Madiun 8 sep 2012, menelurkan sejumlah rekomendasi diantaranya revisi AD/ART.

Beberapa kegitan lain yang digelar CBI yakni Jamnas II CB Indonesia di Kriya Payung Jatinangor Bandung, 26-26 Oktober 2009, Jamnas III  CB Indonesia di Nganjuk Jatim 10 Oktober 2010, dan Jamnas Jamnas IV CB Indonesia di Bengkulu 26-27 Nopember 2011, serta  Rapat Kerja CBI  27-28 nop 2010 di Blitar Jatim………

Kontemplasi :

Hiruk pikuk yang terjadi belakangan ini atas CBI hendaknya dimaknai sebagai dinamika dalam organisasi sekaligus peringatan. Bagaimanapun juga besarnya organisasi CBI dengan beragam keterabatasannya ini telah dibangun dan dibesarkan oleh rakyat CB itu sendiri. Ratusan bahkan ribuan warga CB sendiri yang akhirnya pula menentukan untuk memberi persepsi dan penilaian  atas pengurus CBI itu sendiri. Banyak tokoh-tokoh CB, sesepuh, yang telah ikut merintis dan ikut andil atas kelahiran CBI. Namun kesetiaan mereka-mereka ini tidak untuk digambar gemborkan. Mereka-mereka inilah adalah kekuatan  yang diam, dan tak ingin mendapatkan tempat pun untuk dicacat sekalipun.

Untuk mengingat betapa besarnya partisipasi rakyat CB dalam memberikan konstribusi terhadap CBI, telah diawali sejak pendirian CBI itu sendiri, termasuk memfasilitasi semua even CBI. Selain itu tentu kita masih ingat , ketika warga CB melalui club masing-masing  mulai dari Bali, Jatim, Jateng melakukan aksi kirab bendara CBI secara estafet selama kurun waktu 2 bulan yang  berakhir di Jamnas CBI di Nganjuk.

Ini juga untuk mengukur sejauh mana warga CB memberikan dukungan sepenuh hati kepada CBI. Makna ini seharusnya menjadi kekuatan bagi pengurus CBI, dan jangan sesekali melukai perasaan warga CB dengan  menanyakan sejauh mana warga CB memberikan kontribusi terhadap CBI.

Apa yang telah dilakukan rakyat CB tersebut  terhadap symbol kebesaran yang bernama bendera CBI,  tak lain  untuk bentuk lain didedikasi yang ditujukan  kepada pengurus CBI, dengan harapan bendera itu menjadi symbol persaudaran CB Bikers se Nusantara. Sebagaimana Motto CBI yang tertulis dalam bendera “CB Indonesia Menyatukan Nusantara” yang tak lain spirit sekaligus pesan merolitas segenap warga CBI dan pengurus CBI untuk tetap mengutamakan persaudaraan di tanah air.

Semoga sekilas cacatan ini menjadi berarti, bila ada brothers n sis yang ingin ikut berpartisaipasi dalam memberikan penambahan maupun korekai atas catatan ini tentu kami harapkan sehingga dpt memperkaya catatan ini .

Terimaksih.

Issaq CB News
Sumber:https://www.facebook.com/notes/cbnews-infocbmania/menyusuri-sejarah-cb-indonesia-cbi/357544440999341

Iklan

Perjalanan CB Indonesia (CBI)

Di tengah gencarnya peluncuran motor baru, ternyata eksistensi Honda CB tidak hilang disapu jaman. Bahkan semangat eksklusifnya tetap terjaga. Padahal motor ini sendiri sudah stop produksi 27 tahun lalu. Di Indonesia, produksi Honda CB berlangsung selama 10 tahun, dari 1971 hingga tahun 1981. “Pada jamannya sekitar tahun 70-an, pengendara Honda CB tidak banyak dan meluas. Di Jakarta, pengguna Honda CB paling kalangan anak “Menteng” yang rata-rata status ekonominya berlebih. Soalnya harganya mahal sekitar Rp 250.000,” ungkap Remy Silado yang dikenal sebagai Sineas, Novelis, dan Budayawan.

Tradisi Honda CB untuk tumbuh bisa dilihat di wilayah Jawa Timur. Tercatat mulai tahun 1995, di tiap kabupaten terus bermunculan klub motor Honda CB. Kebangkitan kembali motor ini didominasi model CB 100, dan melebar hingga ke wilayah Jakarta dan sekitarnya pada tahun 2000. Indikasinya tercatat beberapa nama klub Honda CB di ibukota, yaitu Kumpulan Motor Kolot, HCB (Honda Club Bekasi), Jakarta Motor Tua di wilayah Kalibata, serta HDC (Honda Depok Club). Masih ada nama lain dengan plat komunitas, yaitu “CB Owners Indonesia”.

Trend Honda CB di Jakarta makin menjangkiti kaum muda, setelah sempat muncul di film “Janji Joni” tahun 2005. Berkembangnya klub dan komunitas Honda CB diakui oleh Mujiono, ketua Jakarta CB Club. Pria yang lebih dikenal dengan Cak Ndut, menceritakan pada penyelenggaraan Jambore Honda CB ke-7 di Jembrana, Bali, yang hadir tidak kurang dari 3.700 orang. “Yang hadir di sana bukan hanya dari Jawa. Ada dari Padang, Bengkulu, Lampung, bahkan ada dari NTT,” ucap Cak Ndut.

Kenapa Pilih Honda CB Di tengah trend motor klasik

Honda CB termasuk target buruan utama. Bahkan dicari pencintanya sampai ke pelosok. Alasannya pun beragam, seperti Yudha Danuwardhana, pecinta motor tua dan anggota klub “Iron Horse Jakarta”. Ia membeli motor Honda CB karena beranggapan motor ini klasik, tapi tidak ketinggalan jaman. “Tampilannya enak di pandang dan kecepatannya masih kompetitif dengan motor baru sekelasnya,” katanya.

Sementara  M. Maftuh, ketua Club CB Nganjuk, Jawa Timur beranggapan, daya jelajah Honda CB itulah yang membuatnya jatuh cinta. Alasan lain menurut pria yang sering dipanggil Kang Dun ini, karena mudah merawatnya dan gampang mencari spare part-nya. “Kalau soal daya jelajah itu. Ketika Jambore di Jember dan Jembrana, ada anggota yang datang dari Padang

, dua orang perempuan paruh baya pecinta CB,” imbuh Kang Dun. “Dan untuk membuktikan daya jelajah motor ini, pada bulan Juni 2008 kami ada agenda touring ke wilayah Nol Kilometer, Pulau Sabang, ujung barat Provinsi Nangroe Aceh Darusallam,” timpal Cak Ndut. Karyawan ruang pameran Anjungan Lampung TMII yang juga penggebuk drum Band “Anjula”, Maryono mengatakan alasan memilih motor CB 100 selain lumayan irit, merawatnya tidak susah. “Cukup ganti oli tiap bulan dan service, itu saja.”

Berbagai alasan yang mengemuka patut dihormati, termasuk yang di sampaikan Andriyanto, anggota Club CB Ancol, “Motor Honda CB membuat saya meraih prestasi, menang dalam bersaing merebut hati wanita. Padahal saingannya pakai motor Ninja RR, bro,” ucapnya polos kepada 2wheelers saat kopdar di Monas.

Sejarah kelahiran Honda CB

Menurut Kristanto, Head Corporate Communication PT. Astra Honda Motor (AHM), Honda CB pertama kali masuk di Indonesia pada tahun 1971 dengan kode Honda CB 100 K1. Dan terus berevolusi sampai model CB 100 K5 tahun 1981. “Honda CB yang beredar di Indonesia merupakan kendaraan rakitan AHM yang waktu itu masih bernama PT. Federal Motor.”

Selain CB 100, diproduksi juga model dengan kapasitas mesin lebih besar, yaitu 125cc, 175cc dan 200cc. “Untuk seri 175cc dan 200cc saat itu dikenal memiliki performace atau kecepatan yang sangat baik, karena mesinnya dilengkapi 2 silinder dan karburator ganda (double carburator). Tapi yang terpopuler di Indonesia adalah seri CB 100,” imbuh Kristanto.Kristanto menambahkan, Honda CB dikenal sebagai pelopor sepeda motor sport 4-langkah di Indonesia yang bertenaga, namun konsumsi BBM sangat irit. Pada saat itu semua produk  kompetitor masih menggunakan jenis mesin 2-langkah. Di ajang balapan, Honda CB yang sudah dimodifikasi juga sempat digunakan beberapa pembalap nasional, seperti Saksono bersaudara. Bahkan berhasil menyabet beberapa gelar juara. Dalam kurun waktu 10 tahun masa produksi (1971-1981), jumlah penjualan akumulatif Honda CB ini sekitar 600.000 unit. Dengan rata-rata penjualan sekitar 60 ribu unit per tahun, dan merupakan penguasa sepeda motor sport pada masanya, pangsanya sekitar 50%

Suka Duka Mencintai Honda CB

Kalau sudah jatuh cinta sampai ke tahap memiliki, tidak mustahil orang akan siap resiko pahit. Begitu pula dengan pencinta Honda CB. Demi melihat motornya tetap elegan dan berwibawa di jalanan, berapa pun uang yang dibutuhkan pasti akan diusahakan. Andreyanto, anggota klub CB Ancol, sambil tertawa kecil menceritakan dia membeli CB 100 dalam keadaan hancur dengan harga Rp 2 juta dari tangan ketiga. Dan membangunnya mesti mengeluarkan dana Rp4 juta. Meski merasa dibohongi oleh penjualnya, tetapi dia tetap merasa puas telah mendapatkan motor impiannya. “Semboyannya kan gini, kalau belum bisa memiliki motor tua jangan ngaku orang kaya, bro,” ucap Andre bergaya. “Kalau dapat spare part asli, kita seperti menemukan sesuatu yang “wah”. Makanya setiap hari sebelum sampai di kantor, saya hunting dulu di pasar loak lapangan Urip Sumohardjo Mester,“ ujar Yuda dari Iron Horse Jakarta. Yuda yang menggunakan CB 100-nya sehari-hari, merasa gembira motornya pernah ditawar Rp8,5 juta. “Pada waktu membeli dari tangan pertama harganya cuma Rp8 ratus ribu, dan membangun hanya Rp5 ratus ribu.”

“Honda CB ini bisa dikategorikan motor kanibal. Dalam arti bisa memakai spare part motor Honda yang lain,” seloroh Cak Ndut. “Kalau ingin mencari suku cadang asli memang sudah tidak diproduksi lagi, tapi jika mau memburunya dengan seksama di loakan, bengkel-bengkel kecil, atau beberapa toko yang menjual suku cadang Honda, biasanya masih ada yang menyimpan,” ucap Didin, modifikator motor-motor tua dan pemilik bengkel modifikasi di kawasan Pademangan, Jakarta Utara.

“Walau suku cadangnya tidak diproduksi lagi, AHM tetap bertanggung jawab terhadap pengadaan suku cadang semua unit motor yang sudah diproduksi,” ungkap Kristanto. Di sisi lain, beberapa importir umum suku cadang juga masih mendatangkan komponen-komponen motor seri lama yang sudah tidak diproduksi lagi. Begitu pula di beberapa sentra suku cadang dan aksesori sepeda motor di kota besar, suku cadang Honda CB masih bisa dijumpai.

Digemari Artis

Di antara penggemar CB terselip nama – nama beken alias artis. Tercatat di antaranya Fadly (vokalis band Padi) dan Jarwo (gitaris band Naif) yang dikenal sebagai kolektor Honda CB. “Saya punya tiga Honda CB. Dua sudah di-restorasi alias modifikasi. Satu lagi dibiarkan tetap vintage,” ungkap Fadly.

Sampai Ada Gelar “Republik Rakyat CB Untuk Kota Angin Nganjuk”

Di Nganjuk, jangan heran jika di setiap rumah pasti ada Honda CB-nya.  Karena di sanalah sejarah lahirnya kembali Honda CB dan dimodifikasi dengan berbagai model. Saking populernya di kalangan bikers, banyak yang menyebut Nganjuk sebagai RRC-nya Indonesia alias ‘Republik Rakyat CB’ yang biasa di kenal dengan julukan “Nganjuk Kota Sejuta CB”

Anak muda di sana malah punya semboyan, “Ojo Ngaku Wong Nganjuk Lak Gak Nduwe CB” yang artinya “Janangan Mengaku Sebagai Orang Nganjuk Kalau Belum Memiliki CB”. kalimat semboyan tersebut terpampang jelas di Kaos CB Nganjuk yang di produksi oleh anggota CB Nganjuk yaitu Bro Aditya Herman yang lebih dikenal dengan sapaan Adit-Ya Nju’x. Sebetulnya bukan hanya Nganjuk yang popular di Jawa Timur, ada tiga wilayah lagi meski tidak seharum Nganjuk namanya, yaitu Surabaya, Malang dan Jember. Keharuman nama Nganjuk sebagai wilayah klub Honda CB sampai ke Jakarta dan Sumatera. Fadly, vokalis Padi sampai menganjurkan, “Kalau ingin tahu banyak soal Honda CB datanglah ke Nganjuk.”

Nganjuk khususnya dan Jawa Timur pada umumnya memiliki klub Honda CB yang cukup solid dan sudah terdaftar dalam Ikatan Motor Indonesia (IMI). “Solidnya kami bisa ditandai dengan kehadiran kami di Jembrana, paling tidak mencapai jumlah 3.000 anggota,” ucap Kang Dun, ketua Club Honda CB Nganjuk.

Akhirnya Ngajuk menjadi barometer pecinta Honda CB. Kalau ingin memodifikasi Honda CB, orang akan merujuk Nganjuk. Sampai-sampai jika ada yang ingin mendirikan klub terlebih dahulu minta saran ke Nganjuk, siapa lagi kalau bukan ke Kang Dun. “Dalam waktu dekat ini, sudah ada kontak dari Aceh Barat yang ingin mendirikan klub CB di sana,” tutupnya.(2wheelers magazine)

Perkembangan Terakhir Komunitas CB

Dari perkembangan terakhir ini komunitas CB era 2010 mulai tumbuh bagaikan jamur di musim hujan….Terlebih sejak berdirinya wadah CB Indonesia (CBI). Dengan diawali Jamas I, CBI di Jogya, Jamnas CBI 2 di Jatinganor Bandung, Jamnas CBI ke 3 di  Nganjuk , dan Jamnas CBI ke IV di Bengkuku (26-27 nop) 2011 lalu.

Sebelum berdirinya CBI sendiri di Jember Jatim telah dideklrasikan komunitas  CB yakni CB Owner Indonesia. Namun kumunitas ini akhirnya terkubur tanpa eksitensi. Yang selanjutnya terbentuk  CBI dengan terpilihnya Ngadirahardjo atao lebih dikenal dengan panggilan  Mbah Djo didapuk sebagai Presiden CB Indonesia.

Berdasarkan catatan Club CB tertua di Indonesia yakni CB Nganjuk,  di tahun 2011 ini berusia  22 tahun ,  kemudian disusul MCBC Malang, dan SCBC Semarang. Dalam even kemanusian komuntitas CB telah membuktikan dalam bencana merapi di Jogya tahun lalu, selain memberikan bantuan logistic dan bantuan financial  anggota CB dari berbagai daerah terjun langsung membantu para korban. Beberapa diantaranya pun ikut mendirikan posko relawan CB, diantaranya posko CB Mobta , Posko CB Klaten  dan Posko CB Nuntilan-Megelang. Sekitar puluhan Club CB di tanah air ikut terlibat dalam kegiatan kemanusian yang hampir sebulan lebih itu untuk  menjadi relawan secara bergiliran.

Hingga kini catatan yang kami peroleh lebih dari 200-an Club CB di Indonesia. berdasarkan jumlah untuk anggota CB terbanyak saat ini berada di Lampung  yakni CB Club Lampung (CBCL)  dengan perkiraan anggota 1200 orang. Menurut Sekretaris CBCL Junaidi hingga saat ini ada 15 chapter CBCL  dengan total anggotanya semua mencapai 1200-an orang. Sungguh luar biasa tentunya. Club CB di  daerah-daerah  belakangan ini semakin tumbuh subur , dengan beragam aktifitasnya mulai touring, baksos juga sering tampil dalam ajang kontes motor. Beberapa diantaranya club CB yang kerap kontes serta menjuarai diantaranya  The Community CB Deli Serdang Sumut, dan belakangan nama Komet CB Club NTT di Kupang juga mulai berkibar menjuarai kontes motor.

Sementara itu club CB yang telah mendeklarasikan di tingkat wilayah propinsi diantaranya CB Jateng –DIY dengan ketua  Iswahyudi (Pak Is), CB wil Sumbangsel (Lampung,palembang, bengkulu, Jambi) dengan Ketua Gede Sastrawan, CB Bali dengan ketua Hanung Teguh (Pak de) , CB Kaltim dengan ketua Tono, dan yang baru  dideklarisikan tahun ini yakni  CB Jatim dengan ketua Haris. Kawasan lain yang mulai ,menggeliat dengan komitas CBnya yakni di wilayah Kalimantan. Bahkan saat ultah CB Kemhon Pangkalan Bun Kalteng , ditetapkan tiap tahunnya ada even Temu Kangen CB se Kalimantan.

Nasionalisme

Untuk memupuk rasa nasionalisme dan persatuan kesatuan bikers CB di tanah Air, bendera CBI dengan thema CB Indonesia Menyatukan Nusantara dikirap secara estafet mulai tanggal 28 Agustus 2010. Bendera merah putih dan bendera CBI mulai bergerak dari Bali-Jatim, Jateng –DIY – kembali ke Jatim dan dikibarkan di Nganjuk saat Jamnas CBI ke 3. Saat ini bendera CBI berada di CMCB Padang setelah sebelumnya di kirab di Mataran Lombok saat MUNAS CBI. Thema central  CBI Menyatukan Nusantara secara filosofi tentu memiliki  makna yang dalam. Nusantara yang secara harafia nusa (pulau) atau Nusantara dimaknai antara pulau yang satu dengan yang lain dalam bingkai NKRI telah menjadi spirit tersendiri bagi bikers CB untuk ikut memiliki rasa keIndonesiaan dengan berbagai keragamannya,  melalui penyaluran hobby motor CB .

Salam CB mania Indonesia….. (CBNews)

Sumber : http://cb-nganjuk.blogspot.com/2011/12/perjalan-cb-indonesia.html